Tuesday, July 28, 2009

Perbedaan sekolah dan kelas (classroom) pada abad 20 dan 21:

20th Century:

- Berbasis waktu.
- Siswa dipersiapkan untuk menghadapi situasi tertentu dalam hidupnya.
- Fokus pada menghafal fakta2 yang sudah dibakukan.
- Kecerdasan (intelligent) bisa diukur/ ditentukan.
- Pelajaran fokus pada pengetahuan, pendalaman dan aplikasi saja.
- Sumber utama belajar: textbook.
- Belajar secara pasif.
- Siswa terisolasi belajar, dibatasi 4 dinding kelas.
- Fokus pada guru: guru sebagai pusat perhatian dan pemberi pengetahuan/ informasi.
- Kebebasan siswa: dari tidak ada hingga sedikit
- Ada masalah disiplin : Guru tidak percaya dengan murid dan sebaliknya. Tidak ada motivasi siswa.
- Kurikulum tersekat2, berdiri sendiri2.
- Hasil belajar dirata2.
- Harapan pada siswa terbatas (Low expectations).
- Sekolah sangat homogen (sama secara kultural).
- Sekolah memiliki batasan2 yang kaku dan jelas.
- Guru satu2nya pemberi nilai siswa. Tidak ada orang lain yang melihat hasil kerja siswa.
- Kurikulum dan sekolah sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan oleh siswa.
- Alat belajar dan penilaian memakai media tercetak.
- Tugas dan fungsi telah dengan jelas ditentukan dan dipilah-pilah.
- Keanekaragaman yang ada pada siswa tidak diperhatikan.
- Aksara (literacy) hanya terbatas pada membaca,menulis dan matematika.
- Sekolah dan guru bekerja secara otonomi.
- Sekolah beroperasi seperti model pabrik.
- Pendidikan siswa bergantung kepada siapa yang menyediakannya.

21st Century:
- Berbasis pada hasil belajar.
- Tujuan akhir pembelajaran siswa sangat dinamis dan berbeda-beda.
- Fokus pada apa yang siswa tahu & dapat lakukan (tidak terlalu men-detail).
- Kecerdasan itu multi-dimensi (multiple intelligence).
- Pelajaran fokus pada sintesa, analisis dan evaluasi (termasuk didalamnya pengetahuan, pendalaman dan aplikasi).
- Sumber utama belajar: riset.
- Belajar secara aktif.
- Siswa belajar ter-kolaborasi dengan siswa di kelasnya dan diluar kelasnya (Global classroom).
- Fokus pada guru: guru sebagai fasilitator/ pelatih.
- Kebebasan siswa: sangat besar.
- Tidak ada masalah disiplin: Guru dan siswa sama saling menghargai sebagai sesama “pelajar”. - Motivasi siswa tinggi.
- Kurikulum terintegrasi dan antar disiplin.
- Hasil belajar berdasarkan apa yang telah dipelajari.
- High expectations. (Semua siswa sukses belajar pada tingkat yg sulit, bahkan beberapa dari mereka lebih dari itu).
- Sekolah (dalam hal budaya dan latar belakang) sangat heterogen.
- Pendidikan sepanjang hayat bagi setiap siswa.
- Penilaian diberikan oleh guru yang bersangkutan, guru yang lain dan pihak luar.
- Kurikulum sesuai dengan minat,pengalaman, bakat siswa dan dunia luar.
- Alat belajar dan penilaian hasil belajar memakai berbagai macam media.
- Tugas dan fungsi tidak ditetapkan secara kaku dan dapat saling mengisi.
- Kurikulum dan perangkat belajar diarahkan untuk mengatasi perbedaan pada siswa.
- Multi aksara (multiple literacies) yang mengakomodir tantangan hidup dan bekerja di zaman globalisasi.
- Sekolah dan guru bekerja dalam network yang kompleks.
- Pendidikan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
- Pendidikan bergantung kepada si pengguna (user).

Tuesday, October 14, 2008

Membuat Kurikulum Kelas yang Modern - Creating modern class curriculum



Banyak siswa tampak kurang menikmati proses belajar mengajar disekolah, yang kalau di runut2 ke belakang dapat bersumber dari beban/ isi kurikulum dibuat dengan konsentrasi atau mengakomodir dari segi politis saja (bias politis) – dalam arti hanya mengejar target/ kemauan/ keinginan yang ditentukan oleh segelintir politisi atau pejabat tertentu saja (Ministry of National Education/ Depdiknas).

Sebenarnya adalah tugas seorang pendidik atau guru (educators) untuk membuat dan mengembangkan kurikulum nasional menjadi kurikulum kelas yang modern. Ini dapat dilakukan dengan mengakomodasi hal-hal sebagai berikut:
· Perubahan-perubahan social, ekonomi, kultural, politis yang sedang berkembang di tengah masyarakat terkini;
· Perubahan/ perkembangan teknologi dan komunikasi yang sangat pesat, yang tentunya memberi dampak baru pada lingkungan belajar (anak) dan bahkan dapat me-redefinisi istilah ‘belajar’ itu sendiri;
· Dimensi global yang mempengaruhi gerak hidup setiap kita, termasuk cara belajar dan bekerja; · Agenda-agenda kebijakan publik yang mendesak: tingkat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, perubahan iklim dunia (climate change), pengelolaan lingkungan yang lebih baik, penghematan konsumsi energi dan investasi perolehan bahan bakar/ energi yang ramah lingkungan (environment friendly fuels), antisipasi krisis keuangan global (krisis moneter/ekonomi, resesi dunia), dll.

Nah dalam melakukan pengembangan ke arah kurikulum kelas yang modern tersebut, guru yang bijak juga harus memperhatikan segi pandang siswa, misalnya:

· Bagaimana (menurut cara pandang siswa) mereka harus belajar 40 jam pelajaran/minggu atau bahkan lebih (mungkin sangat berat buat anak belasan tahun yang masih dalam masa pertumbungan fisik, emosional, kematangan berfikirnya, apalagi yang juga harus membantu/ bekerja ekonomi orang tua). Bayangkan orang dewasa yang bekerja 40+ jam/minggu saja sudah lelah bila pulang ke rumah setiap harinya, apalagi ini siswa yang masih dalam proses pertumbuhan.

· Harus menghadapi lebih dari 12 guru setiap minggunya. Artinya mereka harus siap menghadapi 12 karakter yang berbeda background dan pendekatan. Bayangkan kalau anda menghadapi lebih dari 1 orang boss di tempat kerja, tidakkah ini bisa mengarah pada 'split personality', untuk mengakomodir perbedaan2 karakter dan hal2 lainnya tersebut.

· Kurang/ tidak adanya tingkat berkelanjutan dalam belajar (tidak kontinyu) sehingga mereka bingung dengan apa yang diajarkan gurunya (misalnya tahun ini pakai buku A, besok buku B; tahun ini ada materi baru tentang X, kemudian hilang tahun berikutnya dan kemudian muncul lagi di tahun ketiga).

· Kurang/ tidak adanya keselarasan dalam belajar, dalam arti tumpang tindih isi dan pembahasan antar mata pelajaran. Tidak jarang guru A mendefiniskan X sebagai 'ayam', sedang guru B mendefiniskan X sebagai 'angsa', terbayang tidak begitu kompleks-nya otak siswa berusaha untuk mengolah/ mengerti definisi2 yang berbeda terhadap satu objek yang sama, tidak jarang mis-information yang diterima dapat mengarah para mis-intrepretation oleh siswa.

· Membuat siswa menjadi bingung atau tidak mengerti, apa sebenarnya kompetensi yang diharapkan oleh kurikulum dari cara dan hasil belajar mereka. Cara mengajar guru yang terlalu memakai bahasa 'langit' (yang susah untuk di-analogi-kan dalam bahasa yang dipahami oleh siswa), kadang2 membuat siswa bingung karena tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat dan terapkan sehari2. Belum lagi perbedaan interpretasi guru terhadap suatu pokok bahasan yang sama dari kurikulum nasional yang sama.

Reaksi yang sering terjadi adalah, siswa sering bilang ‘Oh saya suka mata pelajaran ini’, ‘Saya benci deh sama pelajaran itu', ‘Belajar tentang X ini bagus sekali ya, tapi kalo yang itu jelek’, ‘Guru yang ini enak ya, bagus mengajarnya, yang itu jelek’, dll, dsb. Dengan begitu yang terjadi adalah para siswa tidak memiliki pandangan positif pada kurikulum nasional.

Mengahadapi tantangan abad ke 21 ini, adalah penting bagi guru untuk membuat, mengembangkan dan mengajar kurikulum yang relevan dengan zaman dan kebutuhan masyarakat, dapat dimengerti dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh siswa (making sense) dan yang menekankan dan mengakomodir perkembangan diri dan kemampuan siswa masing2 (personal growth).

Untuk itu para pendidik yang bijak dituntut untuk mempu:
1. mendidik siswa bagaimana cara belajar - berbagi pengalaman antar siswa bagaimana cara belajar yang efektif akan sangat membantu;
2. mempersiapkan/ mengajar para guru bagaimana cara mengajar yang efektif - again sharing will be more effective;
3. mengadaptasi/ penyesuaikan cara mengajar guru di dalam kelas demi peningkatkan daya/ kemampuan belajar siswa;
4. menggunakan kapasitas belajar siswa secara efektif (agar guru tahu kemampuan masing2 individu siswa, dia harus bicara hati ke hati atau kenal dekat dengan masing2 siswanya);
5. membudayakan adanya dialog antar guru dan siswa agar tercipta saling pengertian satu sama lain.

Para pengajar/ guru selanjutnya bekerja sebagai satu team diharapkan mampu bekerja dan merepresentasikan semua ide2 yang terlampir didalam kurikulum nasional, mampu mengajar 'beyond the box' (melampaui batasan2 konvensional, kreatif dan idealis), mampu memahami/mengerti apa yang telah sedang dan akan dipelajari oleh siswa, mampu mendisain suatu sistem belajar dengan target terjadinya peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa secara menyeluruh dan mendelegasikan sebanyak mungkin proses belajar kepada siswa (kesuksesan team dapat diukur bila semua tanggung jawab belajar telah diserahkan kepada siswa, artinya bukan tanggungjawab guru/ team pengajarnya).

Sehingga yang terjadi adalah: sekolah punya jadwal pelajaran, tapi mata2 pelajaran itu 'invisible' (belajar tidak terbatas pada nama/mata pelajaran, semua aktivitas di dalam kelas dan sekolah adalah menjadi proses belajar - bahkan dalam waktu jam istirahat pun bisa manjadi aktivitas belajar bagi siswa), sekolah menintegrasi semua pengalaman, model, cara belajar yang mereka tahu/ lakukan menjadi satu kesatuan/ tujuan (yang mengarah pada hilangnya batasan2 dalam belajar, misalnya belajar belajar menggunakan rumus matematika tertentu dalam membahas ekonomi bisnis atau menerapkan table unsur Kimia saat membahas struktur/ properties suatu bahan baku model desian grafis, dll), peningkatan keterampilan/ pengetahuan menjadi fokus pelajaran (dengan aktivitas apa saja sepanjang siswa menjadi lebih tahu & trampil dari sebelumnya, maka sejati siswa telah 'belajar' sesuatu), dan kurikulum hanya dibuat untuk membantu siswa mengerti apa yang sedang mereka pelajari.

Wednesday, October 08, 2008

Coping with late students


We all wish that we could get all our students to arrive on time, but at least we can have strategies to minimise the disruption.

Strategy 1.
A teacher observed always had a 5-10 minute warm-up/re-cap activity at the start of every lesson, usually in pairs or small groups. Late arrivals were directed to a separate table where a special activity would be waiting for them, with instructions. Discussions about lateness were then initiated by teacher at a time chosen by her, when it did not disrupt the class.

Strategy 2.
In this case, students who arrived later than 4-5 minutes into lesson knew that they would be responsible for the final plenary summary session at the end of the lesson, i.e. they would have to summarise main points of the lesson for the rest of the class. This tended to have the effect of making students keen to arrive on time next lesson.

Strategy 3.
A variant on 1 & 2: late arrivals had to sit in a particular place/table; when the warm-up or first activity of the class was over, the late arrivals had to produce a re-cap of the previous lesson. Again, as with the previous techniques, the regularity of this meant that it became a well-drilled routine and gave a discipline to the class, absorbing late-comers relatively easily.

Strategy 1 & 3 also penalise late students by taking from them the choice of where or with whom they sit for the lesson; they stayed on the ‘late table’.

Clearly useful though these techniques may be, 2 things need to be borne in mind:
Ø it could be argued that it legitimises lateness by accommodating it;
Ø teachers need to use their discretion in deciding whether students can always be blamed for their lateness; this may vary depending on time of day; you may wish to be sensitive to particular student problems.

What is International Baccalaureate (IB)?

The International Baccalaureate Diploma was introduced in the 1960s, in response to concerns about the narrowness of A levels and the need for a qualification that met the needs of a global society. It was designed as a pre university course for highly motivated students and the qualification reflects the European tradition of post 16 students retaining a breadth of subjects to their studies.

There are 1500 schools and colleges offering the IB in over 110 countries; currently the UK and the USA are experiencing the fastest growth in the qualification.

At the centre of the IB are three core elements:

Theory of Knowledge: which explores the nature of knowledge and our ways of knowing. Students complete an essay and a presentation.
CAS: where students undertake 150 hours of Creative, Action and Service activities. The activities should both develop new skills and abilities in the students and provide benefits to the local and international community
The extended essay: where students write a 4000 word research based essay from one of their IB subjects

To achieve the full Diploma students have to pass these three core elements in addition to the following 6 subjects:
1) Home Language, this includes language and literature; 2) a second language; 3) Individuals and Society; 4) Science; 5) Maths; 6) An Arts subjects or a second subject from groups 2, 3 or 4.

Students take three of the subjects at higher level (broadly equivalent to A level) and three at standard (broadly equivalent to AS level). The course is linear with exams being taken in May of the second year.

The IB is recognised by universities in most countries of the world and in June 2006 the IB was formally included in the UCAS tariff. The minimum IB pass mark of 24 gives the equivalent UCAS points of 3.5 grade A “A” levels. The maximum IB points of 45 equates to 6.5. “A” levels at grade A.

Wednesday, October 01, 2008

Masalah yang mungkin dihadapi guru RSBI: Bahasa Inggris



Pengalaman dari berbagai sekolah yang menerapkan RSBI, beberapa sekolah sudah mencoba menempatkan:

1. Guru bidang studi dengan didampingi oleh dosen dalam mengajar siswa di kelas (yang Bilingual). Sebagai bagian dari sharing atau coaching model pendekatan ini sebenarnya cukup baik, namun apabila tidak dikelola dengan baik akan ada masalah yang akan timbul, diantaranya konflik antar guru dan dosen. Ini bisa disebabkan karena guru merasa risih (wibawa turun didepan siswa) dengan kehadiran dosen di dalam kelas. Solusi yang mungkin diterapkan adalah guru dan dosen menyusun tujuan kegiatan ini bersama-sama (sebagai bagian dari good practice sharing – belajar dari pengalaman yang berhasil/baik), membuat kesepakatan mengenai model and pendekatan yang akan dipakai, kemudian dapat menentukan specific action seperti misalnya menyusun jadwal mengajar dimana masing-masing pihak bergantian mengajar siswa dan proses remedial dan perbaikan dilakukan setelahnya. (Saat guru mengajar, dosen hadir di kelas sebagai partisipan aktif dan non aktif. Aktif dalam arti dosen bisa membantu mengelola kelas dengan guru sebagai fasilitator utama dan non aktif artinya membuat ‘catatan2 dan apresiasi’ (untuk itu bisa dibuat kriteria yang disepakati) akan kegiatan belajar mengajar yang dibawa oleh guru untuk kemudian diberikan masukan2 atau remedial untuk perbaikan ke depan. Juga akan sangat baik lagi apabila si dosen dapat langsung mengajar dan guru berperan sebagai partisipan dikelas sehingga guru dapat langsung menyerap cara pengajaran yang diterapkan.

2. Guru bidang studi mengajar didampingi penterjemah. Yang sering terjadi dilapangan adalah dimana guru mengajar dalam bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang penterjemah. Model ini sebenarnya berpotensi kurang efektif, karena dapat menimbulkan de-motivation atau guru kurang termotivasi untuk mencoba berbahasa Inggris (meskipun sering salah atau banyak kekurangan) karena sudah ada yang menterjemahkan. Yang berkembang adalah proses guru ingin serba benar, padahal bila guru membuat kesalahan masih terbuka kesempatan untuk memperbaikinya. Dan ini pada gilirannya bisa membawa perbaikan yang permanen dari praktek mengajar si guru. Dari segi pembelajaran, akan lebih baik bila guru salah dulu, kemudian bisa memperbaikinya, daripada tidak pernah salah tapi tidak tahu yang benar itu seperti apa karena dibantu oleh orang lain. Secara teori memang masih memungkinkan kalau guru bisa pula belajar cara pengucapan yang baik dari penterjemah, tapi pada prakteknya lebih sering terjadi guru terlenakan dan proses belajar tidak seperti yang diharapkan. Akibat tergantung terlalu banyak dengan penterjemah ini siswa juga kurang termotivasi dalam dalam belajar karena melihat gurunya - mungkin - terus2an dibantu/ berlindung dibalik penterjemah. Ketidakefektifan model ini juga dikarenakan waktu yang diperlukan dalam mengajar menjadi lebih banyak (time consuming) karena menggunakan komunikasi dua arah yang tidak langsung (non direct two-way of communication).

3. Guru bidang studi dikursuskan di lembaga kursus bahasa Inggris di luar jam mengajar (untuk peningkatan vocabulary dan perbaikan pronounciation-nya). Dari hasil pengamatan dan wawancara kepada guru masalah yang timbul adalah adanya lembaga kursus bahasa yang kurang memahami keperluan guru/kurikulum, sehingganya misalnya mereka hanya lebih menekankan pada ‘general speaking lesson’ daripada mengarahkan guru untuk mengajar dan menggunakan istilah-istilah yang banyak dipergunakan dalam mata pelajaran tertentu secara tepat. (Mereka khan hanya diharapkan meningkatkan tingkat komunikasi berbahasa Inggris para guru, tidak lebih). Solusi yang dapat diambil adalah mengharuskan lembaga bahasa Inggris yang akan dipilih agar mengakomodasi keperluan guru dan kurikulum mata pelajaran secara nyata (baca didalam kelas), agar hasil training atau kursus (yang biasanya singkat) ini dapat mencapai atau mendekati tujuan yang diinginkan. Ini mungkin dapat berakibat sekolah akan sulit untuk menemukan lembaga kursus bahasa yang dapat memenuhi kriteria seperti ini, namun kita memang perlu mencari program yang hasilnya akan lebih efektif bagi guru.

4. Guru didampingi native speakers dalam mengajar. Masalahnya adalah bagaimana kita mendapatkan native speakers yang mengerti terminology yang banyak digunakan dalam mata pelajaran tertentu. Ini dapat diatasi dengan membuat memberikan induksi (induction) kepada native speakers, seperti pengenalan singkat (brief introduction) mengenai mata pelajaran dan kurikulum yang mereka akan ajarkan berikut istilah2 khusus (terminology) yang mereka harus pahami. Selain itu yang perlu diantisipasi adalah kemungkinan guru menjadi ‘minder’ dengan kehadiran native speakers di dalam kelasnya. Ini harus dijembatani dengan adanya hubungan kerja yang baik antara guru dan native speakers.

Yang belum banyak dicoba mungkin adalah membentuk kemitraan antara sekolah dengan pihak ke-3 – para praktisi baik di swasta maupun pemerintahan - termasuk orang tua, yang memiliki kemampuan (knowledge and skills) mengajar dalam bahasa Inggris, dan memintanya mendukung program sekolah. Istilahnya untuk menjadi guest speakers atau pengajar tamu. Ini dapat dilakukan dengan meminta para ahli atau orang tua yang bisa mengajar satu mata pelajaran dan topik pembahasan tertentu di dalam kelas. Memang ada pula kekhawatiran dari pihak sekolah/ guru jika respek siswa kepada mereka akan kurang – terutama bila ada guest speakers yang ternyata sangat bagus atau menjadi favourite siswa. Tetapi ini sebenarnya tidak seharusnya menjadi faktor penghambat kemajuan apabila semua pihak bisa bekerja sama. Siswa harus menjadi tujuan sentral/ utama suksesnya program ini, dan sekolah tidak bisa memonopoli pendekatan untuk mencapai tujuan tersebut hanya karena kepentingan yang sepihak saja.

RSBI adalah tantangan - Why RSBI? Why now?

Saya memutuskan ikut menjadi anggota penulisan buku tentang Rintisan sekolah bertaraf Internasional atau RSBI. Sebelumnya memutuskan ikut saya mencoba mengutak utik dampak turut serta dalam penulisan ini. Betapa tidak RSBI menjadi semacam isu panas yang lagi hangat dan kerap dibicarakan di tengah masyarakat.

Dibeberapa milis pendidikan yang saya pantau, pro dan kontra terhadap program RSBI sudah sangat sengit bahkan ekstrim. Sebagai peneliti yang terkadang harus mengkritisi kebijakan program kerja pemerintah di sektor pendidikan, adalah dilema kalau saya hanya turut mencela program RSBI ini, tanpa membicarakan kelebihan/kekurangan dan memberikan alternatif2 solusinya. Sangat mudah dan aman sebenarnya kalau saya hanya turut mengkritik saja, karena toh sudah cukup banyak suara negative dari masyarakat yang bisa dijadikan acuan. Lumayan, kalau hanya bisa jadi ‘penyanyi’ di seminar2 dan menyajikan fakta2 sepihak saja.

Tapi saya memilih tidak ingin ikut2an arus yang menentang. Karena masih banyak sebenarnya sisi baiknya yang seharusnya harus diberi appresiasi secara positif. Itu kalau mau pendidikan kita tetap bergerak maju, meskipun mungkin sedikit, tapi khan lebih baik daripada tidak. Alasan saya adalah kondisi dan standard pendidikan Nasional kita memang kompleksnya, berbeda-beda alias tidak sama. Karenanya tidak ada 1 resep manjur yang cocok buat semua penyakit. Justru beragam innovasi dan terobosan yang berbeda tujuan dan pendekatannya perlu kita coba, untuk melihat mana yang cocok dan mana yang tidak. Kalau perkara akan menimbulkan kebingungan, ketidaksiapan dan resistansi dari elemen2 yang berbeda di masyarakat – itulah seni atau tantangan yang perlu ditaklukan dan dicari jalan keluar.

Saya yakin adaptasi terhadap tantangan dari luar/lingkungan (baca teknologi) adalah jalan terbaik untuk mengejar ketinggalan daripada sekadar hanya menolaknya, tapi tergilas. RSBi sekalipun tidak sempurna dan mungkin hanya mewarnai sekolam daripada sebegitu luasnya laut Indonesia tetap harus tetap dipandang sebagai terobosan yang perlu dianatara stagnansi innovasi pendidikan nasional saat ini. Siapa tahu dari sekolam bibit ini, bisa muncul hasil yang dapat membawa keunggulan bagi keseluruhan bangsa? Walahu alam, lebih baik berusaha daripada tidak (dan tergilas).

Why Sekolah Bertaraf Internasional? Why now?
Di Asia sendiri sekarang terjadi peningkatan trend dimana permintaan akan sekolah yang menggunakan bahasa Inggris (bilingual) dirasakan terus meningkat. Kecenderungan ini tidak hanya ditemui pada negara-negara bekas jajahan Inggris seperti India, Malaysia, dan Singapura, tapi juga di negara2 yang berekonomi kuat seperti Jepang, Thailand, Taiwan dan China. Para orang tua dan pemerintah mempunya alasan tersendiri mengapa 'demand' ini menjadi trend. Salah satunya adalah tantangan dunia global dan persaingan ekonomi yang semakin keras, membuat mereka berpikir salah satu cara menguasai ilmu dan teknologi secara cepat dan mempersiapkan generasi yang siap bersaing secara global adalah dengan menguasai bahasa (English) dan teknologi dari Barat.

Di tahun 2008 di Thailand, misalnya, tercatat lebih dari 100 sekolah bilingual atau bertaraf Internasional telah berdiri. Sementara Taiwan memiliki sedikitnya selusin sekolah bilingual, beberapa diantaranya sudah berdiri sejak 20 tahun lalu. Sementara di Korea, ribuan siswa sekolah dasar hingga menengah tingginya mengikuti program bahasa Inggris, beberapa diantaranya setingkat native speakers. Ditiga negara diatas yang dikategorikan ‘new economies’ di Asia, trend orang tua mengirim anak2nya ke sekolah berbahasa Inggris sangat meningkat tajam, sementara itu negara-negara yang sudah lama memberlakukan ‘bilingual’ seperti Singapura, Phillipina dan Hongkong (China) justru menunjukan trend penurunan (Good, 2005).

Tahun 2003, pemerintah Thailand merevisi undang2 mengenai kurikulumnya yang mendorong setiap anak untuk bisa belajar dalam bahasa dan memakai kurikulum apa saja. Pemerintahnya juga meluncurkan program dengan target minimal ada sekolah bilingual atau bertaraf Internasional di setiap provinsinya.

Di Taiwan para siswa sekolah hanya setengah hari kemudian mengikuti program pendalaman bahasa Inggris setelah jam sekolah usai.

Pengalaman yang berbeda justru terjadi di negara2 berbahasa Inggris seperti Britania Raya (UK) dan Amerika Serikat. Di Britania Raya, misalnya, sekolah-sekolah bilingual diperkenalkan justru untuk mengajarkan bahasa lain selain Inggris (English plus). Sekolah yang berpartisipasi program bilingual tersebut memperoleh kelebihan-kelebihan (benefit) daripada sekolah biasa yang hanya diajar dalam 1 bahasa saja (English) (Independent, 2006; BBC, 2008), khususnya dalam hasil ujian nasional. Adapun jenis bahasa-bahasa yang diajarkan sekolah-sekolah bilingual tersebut adalah bermacam-macam misalnya Perancis, Portugis, China, Bengali, Italia, Urdu, Polandia, dll. Di UK setidaknya ada hampir 1 juta anak yang berbahasa selain English di rumah mereka masing2. Pengalaman dari beberapa sekolah, awalnya memang terjadi kesulitan daya serap dan prestasi bagi siswa yang diajar dalam bahasa asing, namun kemudian hal ini pelan-pelan bia diatasi dan malah mendapat kelebihan-kelebihan lainnya, misalnya pengajaran kurikulum yang lebih innovatif dan menarik dari sebelumnya (BBC, 2006).

Friday, September 26, 2008

Pengalaman di kelas inklusif bersama guru

Kemarin saya diminta untuk membantu Rachel – guru Chemistry - di kelas Year 12-nya. Dari seorang guru Biologi sebelumnya saya mendengar bahwa kelas tersebut dikategorikan ‘sulit untuk diajar’. Saya pikir ini mungkin karena kelas ini memiliki beberapa anak- anak yang memiliki specific learning difficulties. Maka pagi2 10 menit sebelum kelas mulai, saya bersiap-siap dan datang ke kelas tersebut. Saya sibuk menebak-nebak kira-kira apa yang bisa saya lakukan dikelas tersebut. Saya sudah mengenal Rachel sebelumnya. Dia guru Chemistry yang cukup berpengalaman, baik dan ramah, bertutur kata yang runut, lembut dan jelas. Juga punya empathy yang tinggi dengan siswa2nya. Kalau dia sampai meminta bantuan di kelas, saya pikir pasti ada sesuatu yang tidak biasa dengan kelasnya.

Tepat jam 8.30am saya sudah dikelas, tapi baru ada 4 orang yang hadir. Sambil menunggu Rachel tiba saya berbincang2 dengan siswa yang ada, sambil berkenalan. Sampai 10 menit lewat, jumlah siswa hanya bertambah dua. Saya pikir ‘dimana siswa2 yang lain, ini telat sekali’. Tapi Rachel pun tampak sudah memperkirakannya dan masih belum mau bersiap membuka kelas, dia seperti masih mempersiapkan sesuatu. Setelah 15 menit berlalu, Rachel baru bicara dan meminta anak2 untuk pindah ke IT room – yaitu ruangan computer dimana para siswa biasanya membuat laporan. Dia meninggalkan pesan di pintu kelas untuk siswa2 lainnya yang belum hadir.

Sambil jalan saya bertanya dengan Rachel ada apa dengan kelasnya? Rachel bilang dia strunggle berat dengan kelas ini, karena ternyata ada 4 orang siswa yang memiliki specific learning difficulties. Tapi masalahnya bukan terletak pada keempat siswa itu saja, itu masalah attitude keseluruhan siswa di kelas. Saya cuma bisa menduga2 apa yang dimaksud Rachel. Diantara siswa yang perlu extra perhatian, ada dua laki-laki, yang pertama black dan dyslexic yang juga punya masalah dengan managing/ meeting work deadline – suka terlambat gemar membuat alasan yang dibuat2. Dia juga remaja yang moody dan suka ngambek kalau diledekin kawan2nya. Yang kedua, keturunan Asia selatan yang sering sakit alias tidak hadir – kebetulan dia tidak hadir karena sedang dirawat di rumah sakit karena keluhan chest pains. Satu siswa perempuan, white, memiliki mild asperger dan suka galak dengan siapa saja – terutama kalau merasa diperlakukan tidak adil. Yang terakhir, Asian juga, assessment menyeluruh tentang kondisinya belum komprehensif/ selesai – tapi diperkirakan memiliki kesulitan dalam hal ingatan dan comprehension terutama menerima intruksi di kelas. Pikir saya, wow, ini setengah siswa di kelas punya masalah semua, tak heran kalau gurunya kelihatan distressed sendiri.

Sepuluh menit di ruangan IT, suasana masih riuh dan anak2 belum settle. Rachel benar-benar strunggle membuat anak2 itu duduk dan konsentrasi dengan apa yang akan disampaikannya. Saya berinisiatif berkeliling kelas, menyapa siswa satu-satu, kemudian meminta mereka settle karena kita akan mulai pelajaran. Lumayan efektif tampaknya, kebanyakan anak2 mulai settle meskipun masih ada yang fiddling stuffs around the table (main-main macam2 dimeja), tapi paling tidak mereka duduk di kursi masing2. Mungkin karena baru ketemu saya hari ini, jadi mungkin mereka masih segan. Tetapi ada 2 orang anak perempuan yang duduk dipojok yang terus-terusan bicara dalam logat Brumies - dialek lokal - (dengan suara yang keras) satu sama lain seakan tidak ada orang lain di kelas.

Setelah berkali berbicara setengah berteriak akhirnya siswa disuruh log on computer masing2 dan Rachel minta anak2 menggunakan kesempatan ini untuk menyelesaikan writing up praktek Chromatography mereka minggu lalu. Dia akan come around mengecek laporan siswa satu demi satu.

Rachel kemudian meminta saya meng-handle satu sisi kelas dan dia yang lainnya. Sisi bagian saya termasuk 2 orang anak perempuan yang gaduh itu. Saya diberitahu Rachel bahwa salah satu dari 2 orang anak ini ialah yang memiliki masalah comprehension tadi. Memang sekilas saya lihat attitude kedua anak ini memang sangat kontras dengan kawan2 lainnya di kelas. Selain berbicara sengan suara cukup keras, mereka juga suka memotong kata2 gurunya dan menambahi komentar seenaknya, tapi terlihat seperti tidak punya rasa bersalah begitu. Akhirnya terpaksa karena si guru sering dipotong dan suara pun semakin meninggi. Poor (kasihan) Rachel, meskipun kerap dicuekin disini para guru tidak bisa seenaknya marah2 dan bertingkah laku yang menakut2i (bully) siswa, karena undang2nya sangat keras melindungi siswa. Paling berani, guru hanya mengingatkan siswa berkali2, tidak boleh mencubit apalagi lebih dari itu. Malah ada cerita siswa bisa komplain kalau si guru sedikit saja menyentuh kulit siswa-nya (apalagi lebih dari itu). Tak heran kalau Inggris masih kekurangan guru, yang kekurangannya diisi oleh guru2 imigran, karena guru yang stress oleh bad attitude siswa dikelas/sekolah lebih memilih ganti profesi daripada jadi sakit mental dan sakit/makan hati.

Akhirnya saya mendekati dua anak tersebut, memperkenalkan diri dan bertanya-tanya tentang mereka dengan sopan. Alih2 mendapat respek, mereka justru banyak melontarkan pertanyaan kepada saya dengan penuh selidik dan melempar komentar2 lucu, aneh dan cekikikan berdua. Dengan sabar saya jelaskan bahwa saya disini akan membantu mereka menulis laporan Chemistry, dan kalau mereka mau kerja dan berkonsentrasi penuh mereka akan mendapat nilai yang baik dan membawa mereka masuk ke universitas2 terbaik di UK. Saya sebutkan bahwa saya lulus dari Birmingham University dan uni ini adalah yang paling prestigious di West Midlands dan karena itu masuk kategori uni terkemuka di dunia. Saya sengaja dragging their attention supaya pelan2 bisa diarahkan ke task yang sebenarnya.

Strategi ini pelan2 mulai membuahkan hasil, mereka mulai tertarik mendengarkan saya dan sudah tidak berbicara terlalu keras hingga mengganggu yang siswa yang lain. Saya bilang saya seorang Moslem – karena saya lihat mereka Asian dan salah satunya memakai hijab – dan sedang berpuasa. Mereka senang mendengar ini dan bilang mereka juga puasa. Salah satu dari mereka menebak saya dari Indonesia. Benar kata saya, saya berasal dari the most populous Moslem country in the world. Di Indonesia sana, kata saya, banyak masjid. Hampir tiap 300 – 400 meter (saya menganalogikan jarak tersebut dengan jarak antar bus stop di Inggris), ada mesjid, jadi setiap masuk waktu Shalat terdengar adhan dimana2. Mata mereka terlihat kagum dengan cerita saya ini. Tapi toh tidak menyurutkan kebiasaan berkomentar dan cekikikan. Ya Man!, Ain't it?etc, ...begitu istilah2 yang mereka suka pakai.

Do you pray 5 times a day, sir? Make sure you do”, mereka tertawa cekikian lagi. Membuat saya manggut2. Saya pikir ini saatnya mengalihkan perhatian ke pelajaran. Akhirnya saya suruh mereka membuka catatan mereka tentang praktek minggu lalu, karena kita akan mulai writing up. Sambil saya ingatkan lagi apa yang mereka telah lakukan saat praktek Chormatography, saya pisahkan tempat duduk kedua anak ini agar mereka bisa berkonsentrasi secara indivual. Sambil membantu mereka membuat laporan, tak lupa saya puji kemauan mereka untuk bekerja keras mengerjakan tugas. Amazingly, kedua anak yang sebelumnya distraktif ini bisa duduk dan serius mengerjakan laporan praktek tersebut. Malah mereka sendiri bilang mereka ingin terus begini agar memperoleh nilai yang bagus.


Tak terasa waktu pelajaran usai, dan akhir pelajaran Rachel mengakui ini yang pertama kali dia merasakan benar-benar mendapat kelas yang terkontrol sejak menangani kelas tersebut.
Kasus kelas Rachel adalah contoh yang sering terjadi dimana saja, dimana guru menghadapi multi kompleks (inclusive, multiple intelligent) masalah di dalam kelas yang membuat mereka strunggle to cope the situasion by themselves. Solusinya memang need other handy people (orang kedua) di kelas. Di Inggris, sejak awal abad 21 ini pemerintah ‘berekperimen’ dengan mengeluarkan undang2 (pendidikan) inklusif baru yang memberi guru ‘bantuan’ yang diperlukan dalam mengajar kelas inklusif seperti asisten guru, guru bantu (teaching assistant) dan atau istilah2 lainnya (learning support assistant, enabler, etc). Tentunya para orang kedua ini bukan yang berlatar belakang guru - tapi telah di training sedemikian rupa agar bisa membantu siswa di kelas.

Friday, September 19, 2008

Guru: The good, the bad and the ugly


Seperti judul sebuah film legendaris, setidaknya ada tiga jenis guru yang kita tahu.

Yang pertama tentu, the Good, guru yang bagus. Guru yang bagus ini adalah guru yang benar2 tulus dalam mendidik siswa/i-nya, semangat mengajar dengan penuh cinta dan dedikasi tinggi bak mendidik dan membimbing anak-anaknya sendiri.

Guru seperti ini - sangat langka secara kuantitas - dan sangat tepat apabila disebut pahlawan, karena kehadirannya kerap bisa merubah dan menentukan nasib seseorang di masa depan. Napoleon Bonaparte adalah seseorang yang sangat beruntung memiliki guru yang bagus ini, yang memberikan kekuatan dan kepercayaan pada karakter yang ada dalam dirinya, sehingga dipuncak karirnya ia masih sempat menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam saat bertemu dengan guru masa kecilnya.

Figur guru yang bagus ini biasanya melekat dihati dan pikiran kita, hingga menjadi dewasa dan beranak cucu, hingga tak heran banyak dari kita berharap anak-anak kita akan seberuntung kita yang memiliki guru yang bagus ini.

Jenis guru yang kedua, the Bad, guru yang jelek. Guru disebut jelek semacam ini biasanya dikarenakan memiliki perilaku yang gemar marah, memukul, suka menjelek2kan, mengolok2 atau menakut-nakuti siswa/i-nya, baik secara fisik maupun mental, sehingga yang ada adalah perasaan tidak nyaman, terpaksa dan ketakutan dalam kelas. Guru semacam ini selain tidak disukai juga bisa berakibat fatal bagi masa depan siswa. Ada anak yang sampai dewasanya tidak pernah punya rasa percaya diri, minder bahkan trauma akibat perlakuan dari orang yang seharusnya mendidik dan membimbing mereka dengan kasih sayang di masa lalu.

Scientist Albert Einstein pernah suatu ketika di'ramal'-kan oleh guru kelasnya sebagai orang yang tidak akan menjadi apa-apa saat dewasa nanti. Ternyata yang terjadi sebaliknya, si Einstein bahkan menjadi scientist terkenal yang masih terus dikagumi hingga detik ini. Tak heran sering orang berkilah, 'Aduh nyesel banget dulu aku dulu nggak suka sama pelajaran ini...., soalnya guruku dulu brengsek banget sih!'. Tetapi guru seperti ini masih bisa berubah menjadi lebih baik apabila mendapat bimbingan atau hukuman yang tepat. Karena tak jarang mereka ini juga menjadi korban kekerasaan saat mereka masih kecil atau masih jadi siswa, sehingga ada keinginan untuk balas dendam.

Tipe ketiga ini yang paling berat, the Ugly, guru jahat. Nah ini guru yang bermanis muka didepan, tapi jahat abis belakangannya. Termasuk dalam kategori semacam ini adalah guru yang cabul atau Phidophile - monster pemangsa anak-anak. Ini guru bejat yang berpura-pura baik di depan siswa, tapi sebenarnya mengincar untuk dijadikan korbannya. Guru tipe ini sulit diprediksi dari penampilan luarnya, karena biasanya berperilaku sopan, alim, father/mother figure, padahal serigala berbulu domba. Misalnya saja ada guru yang memperkosa 39 anak muridnya (di China dan dihukum mati) dan kasus2 lainnya seperti ini:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/16/14361132/pak.guru.perkosa.murid.di.kompleks.sekolah
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/10/03310597/guru.ngaji.sodomi.26.murid.tk
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/02/tgl/25/time/144727/idnews/547334/idkanal/10

Termasuk kategori ini mungkin guru yang memperjualbelikan nilai dengan siswa, guru korupsi, guru pengemis - minta2 sumbangan untuk kepentingan sendiri, dan masih banyak lagi. Guru semacam ini sudah diberantas kecuali diberlakukan hukum yang setimpal bagi pelakunya. Untuk itu perlu diberikan screening yang se-ketat2-nya bagi calon guru, seperti bersih catatan kriminal, dsb. Serta perlu ada pengawasan ketat dari sesama korps guru dan masyarakat yang mengetahui perilaku menyimpang atau tak semestinya dari para guru dimana saja.

Mungkin pembaca ingin menambahkan kategori yang lain, silahkan...

Aplikasi bagus buat guru, siswa, mahasiswa Kimia



Hari ini di kelas Year 13, saya mendampingi anak2 belajar satu applikasi yang diperuntukan untuk mendukung write up Chemistry course work. Aplikasi tersebut bernama ACD ChemSketch (ACD = advanced Chemistry development) - suatu aplikasi yang sangat bagus sekali untuk belajar dan mengajar Chemistry terutama untuk tingkat advanced - seperti untuk sekolah menengah/ kejuruan atau perguruan tinggi.



Computer generated program ini sangat membantu guru dan siswa tidak hanya dalam seperti memvisualkan ikatan antar molekul (bonding) elements - bentuk 2D dan 3D, tapi juga bisa menghitung massa/ weight dan bahkan memberi nama polimers atau product baru tersebut. Juga sangat membantu para guru/ siswa ingin memperoleh gambar atau diagram apparatus yang mereka gunakan saat melaksanakan beberapa experiment dasar seperi distillation, dll.

Juga bisa memperoleh label dan hazard banyak zat-zat kimia yang sangat membantu sekali dalam membuat laporan praktek atau untuk membuat soal-soal latihan kimia.

Sebelum mencoba program ini, terbayang ngelimet dan mumetnya kalau mau membuat laporan kimia yang memerlukan diagram dan gambar molekul, bonding dan polimer. Ternyata setelah 5 - 10 menit mencoba, program ini sangat mudah untuk dioperasikan dan anak2 senang bermain-main mencobanya - karena banyak features yang memberi gambar, graphics dan animasi yang disukai oleh siapa saja.

Yang bagusnya lagi, aplikasi program ini gratis dan bisa di download di internet. Jadi kabar bagus dan sangat berguna sekali buat para guru, siswa dan mahasiswa (Chemists) . Selamat mencoba..

Berikut website untuk mendowload free version-nya:
http://www.acdlabs.com/download/chemsk.html

Monday, September 15, 2008

Profesi Guru Naik Daun…..


Beberapa tahun yang lalu, ketika Orde baru masih berkuasa, di masyarakat berkembang kesan yang sangat kuat kalau guru adalah profesi bagi mereka yang susah hidup, tidak 'menjanjikan' dll sbg, dan karenanya menjadi kurang diminati oleh para pemuda/i. Banyak yang memandang sebelah mata, apalagi pada saat Orde Baru masih dipuncak kesuksesannya menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang stabil, sehingga kita di kenal salah satu Asian Tigers.



Tak heran saat itu, anak-anak yang 'pintar' banyak yang menghindari jurusan yang mengarah ke profesi guru, demikian juga di perguruan tingginya. Salah satu jurusan yang saat itu dianggap 'keren' atau menjanjikan ialah jurusan Perbankan terutama bagi yang bercita-cita berkerja di Bank dan mau banyak uang. Maka jadilah jurusan pendidikan di fakultas pendidikan diisi oleh mereka-mereka yang dikategorikan ‘gagal’ di jurusan lain atau mereka yang bercita-cita tidak lebih tinggi dibandingkan hanya menjadi Pak dan Bu guru di sekolah.

Trend seperti ituberlangsung hingga 1997/8, sebelum terjadinya krisis keuangan Asia (credit crunch) yang memaksa Indonesia terjerembab ke resesi ekonomi yang sangat parah, dengan inflasi mencapai ratusan persen dan banyak perusahaan yang tutup. Maka economy buble yang dibanggakan (booming) pun pecah (burst) yang memaksa pemerintah turun tangan menalangi para debtors dan akhirnya menutup bank-bank yang krisis likuiditas keuangannya.


Ditengah situasi ekonomi sulit dan pengangguran yang meningkat tajam, ternyata angin segar bertiup ke arah lain. Satu-satunya profesi yang tahan di terpa krisis adalah profesi di pendidikan dan kesehatan. Para guru yang sebelumnya terpinggirkan mulai memetik hasilnya. Pemerintah Habibie menaikan gaji dan tunjungan mereka jauh dibandingkan sebelum Orde Baru berkuasa. Zaman reformasi mencatat setiap tahun gaji dan remuneration para guru dan dosen di tingkatkan paling sedikit 15 % untuk mengimbangi tingginya inflasi.

Beralihnya perhatian ke sektor pendidikan ini menjadi bukti nyata adanya shift policy atau U-turn dikalangan pembuat kebijakan yang dulunya 'hidup di menara gading'. Reformasi di bidang pendidikan dijadikan salah jalan keluar bagi banyak bangsa-bangsa yang jatuh untuk kembali bangkit dari krisis – terutama dibidang ekonomi - seperti ditunjukan oleh bangsa-bangsa yang dulunya hancur akibat perang dunia (PD), seperti Jepang dan Jerman.



Di masa krisis moneter dan ledakan pengangguran tersebut, kita justru melihat banyak tenaga kerja yang di-PHK (sacked) terutama yang sarjana 'hijrah', beralih profesi menjadi guru bantu atau guru kontrak disekolah-sekolah. Kebutuhan akan guru yang sebelumnya tidak pernah terpenuhi berbalik menjadi rebutan bagi mereka yang dulunya memandang sebelah mata. Formasi pengangkatan guru/ PNS diperebutkan banyak pelamar, termasuk guru kontrak sekalipun. Profesi guru dipandang penyelamat ekonomi bagi banyak orang, banyak universitas yang menutup banyak program studinya karena tidak ada peminat/mahasiswanya.



Naik daunnya profesi guru, sudah jelas membuat orang tidak malu2 lagi mengaku ingin menjadi guru. Meskipun demikian harapan bahwa guru menjadi profesi professional masih jauh dari harapan. Setelah pemerintah 'berencana' menjalankan amandemen baru UUD 45 dan UU Sisdiknas, yang mewajibkannya pemerintah pusat dan daerah untuk menyisihkan 20 % anggaran untuk pendidikan - diluar gaji pegawai - pada tahun 2009 nanti, mereka yang berseragam guru semakin percaya diri. Namun dibalik kabar baik itu, tersembunyi banyak tantangan yang sangat berat. Bukankah semakin tinggi pohon semakin kencang tiupan angin menimpanya?



Naik-daun-nya profesi guru menyimpan bom waktu (time bomb) yang jika tidak diantisipasi oleh para guru maka akan menjadi bumerang dan pada gilirannya akan menjadi anti klimaks yang menghantarkan profesi itu kembali ke zaman sebelumnya. Para guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa di masa lalu, karena jasanya sudah mulai dihargai dan dibayar tinggi oleh negara dan masyarakat. Jika para guru tidak berusaha mencapai profesi yang professional, berprestasi dan mampu mengimbangi tuntutan masyarakat yang semakin kritis dan perkembangan zaman yang pesat, maka dua hal yang terakhir ini akan menelannya. Naiknya gaji harus diimbangi dengan semakin berkualitasnya produk akhir (end product). Para guru harus siap bekerja lebih keras agar mereka menghasilkan generasi yang lebih baik dari generasi mereka sendiri.



Masa bulan madu biasanya pendek, setelah tahun 2009 - mungkin tahun keemasan para guru, sudah menanti masa-masa berat. Ekonomi rakyat kita yang belum pulih paska krisis Asia akan semakin bertambah dengan ekonomi dunia yang mengarah pada resesi yang paling parah sejak 1930an. Disitu menunggu pekerjaan maha berat, mampukah para guru menuntun bangsa kita melewati masa-masa sulit itu dengan baik?



Time will tell....

Guru Baru vs Guru Lama


Apa perbedaan antara guru baru dan yang berpengalaman dalam membawa mata pelajaran pada awal pertemuan? Ternyata dari hasil pengamatan saya bertahun-tahun diperoleh hasil berikut:

Pertama pada pertemuan awal dengan para murid guru baru biasanya menghabiskan waktu lebih lama (biasanya 10 – 15 menit pertama-nya) berusaha memperkenalkan dirinya kepada murid – baik itu berbicara tentang asal usulnya atau hal lainnya. Guru lama (begitu disebut agar lebih simple) cenderung lebih sedikit berbicara tentang dirinya. Tetapi guru lama cenderung lebih banyak bicara tentang apa yang akan murid lakukan (expect to find out) dalam pelajarannya. Guru baru melakukan ini karena mereka merasa perlu mendapat respect dari para murid yang baru mereka hadapi ini. Sedang para guru lama (biasanya) merasa sudah mendapat recognition atau sudah percaya diri (PD), maka mereka ingin para murid lebih tertarik pada mata pelajaran daripada berbicara tentang dirinya.

Yang kedua, guru baru biasanya tidak bisa menyelesaikan lesson-nya sesuai timing-nya, atau kalau pun selesai tapi biasanya buru-buru karena dikejar waktu (misalnya memberi kesimpulan secara langsung daripada men-summarise kesimpulan2 yang dibuat oleh murid). Sementara guru lama sangat ketat(rigid ) dengan waktu; mereka mempersiapkan diri lebih baik, bahkan kadang menyetel alarm bagi diri sendiri (5 – 10 mins) agar punya kesempatan menutup pelajaran dengan men-sintesa kesimpulan murid terlebih dahulu kemudian memberi kesimpulan umum.

Ketiga, para guru baru biasanya struggle to control class; misalnya membiarkan siswa ramai bicara sendiri atau para murid bekerja sendiri tanpa di-supervisi. Ini bisa disebabkan karena mereka masih memikirkan dan mengira2 hasil akhir dari suatu kegiatan (diskusi atau praktek) sambil mengajar. Sementara guru lama biasanya sudah punya bayangan dari apa yang telah mereka lakukan sebelumnya, mereka bisa lebih menyetir suasana kelas.

Kebiasaan murid-murid baru adalah mereka menghabiskan banyak waktu untuk saling memperhatikan (pakaian, accessories, gadgets, etc) atau menarik perhatian kawan-kawannya. Sebagian lagi lebih kepada mengagumi (atau sebaliknya), daydream fisik ruangan dan fasilitas yang ada di dalam kelas, dll; sehingga konsentrasi mereka pada guru dan pelajaran biasanya sangat mudah terganggu.

Guru baru sering tidak mengantisipasi hal ini dan membiarkan, sehingga mereka nantinya harus bekerja lebih keras untuk membuat murid focus ke pelajaran kembali. Sementara guru lama yang sudah mengantisipasi ini akan terus menerus mengingatkan dan berusaha dragging student’s attention dari hal-hal seperti ini agar suasana kelas tetap terkontrol. Dengan melakukan hal ini, biasanya guru lama yang menegur satu-satu atau sekelompok siswa secara langsung, biasanya berhasil mempertahankan respects dari muridnya, dan tentu kontrol kelas. Sementara guru baru yang cenderung membiarkan (karena biasanya berusaha to win students’ hearts and minds) hasil sebaliknya yang didapatkan, yaitu murid menjadi kurang respect (menghargai). Mereka kadang-kadang harus berbicara dengan nada tinggi untuk mengontrol kelas yang mulai tak terkendali.

Meskipun guru lama cenderung lebih bisa (relatif) lebih mengontrol kelas dengan cara yang sedikit autocratic, sering mereka kurang memahami kebutuhan murid (seperti daya tangkap dalam pelajaran yang tidak merata) – karena lebih mementingkan kontrol kelas. Tidak heran kadang-kadang murid yang duduk dibelakang, atau dipojok, atau yang malu bertanya sering terlewatkan oleh perhatian guru. Untuk itu perlu dibuat keseimbangan antara mengontrol kelas lebih efektif misalnya dengan berkeliling kelas dan langsung mengecek, tanya jawab daya tangkap siswa secara lisan atau tulisan (jika memungkinkan).
Kecenderungan prilaku guru baru dikelas diatas perlu dipelajari oleh mereka yang baru pertama kalinya mengajar - seperti mahasiswa calon guru - agar masalah-masalah yang mungkin terjadi pada permulaan mengajar dan pertemuan-pertemuan seterusnya bisa diantisipasi dengan baik.