http://www.ziddu.com/download/11672630/04.UNB.Indonesia.rar.html
http://www.ziddu.com/download/11672631/01.UNMatematika.rar.html
http://www.ziddu.com/download/11672632/02.UNIPA.rar.html
http://www.ziddu.com/download/11672633/03.UNB.Inggris.rar.html
Baru-baru ini (tahun 2009), saya membaca kabar bahwa menurut penelitian Internasional, anak2 Russia usia 10 tahun ditempatkan dirangking teratas dalam hal keterampilan membaca. Mereka mengumpulkan 565 poin dalam tes PIRLS (Progress in Internasional Reading Literacy Study) dari
Mengapa anak2
Bagaimana kalau model Russia ini diterapkan disekolah2 kita di Indonesia? Saya hanya bisa membayangkan, mungkin bisa jadi ‘keributan besar’ kalau model kurikulum ini diterapkan disekolah2 kita. Para orang tua bisa-bisa protes keras, bila anak2nya diharuskan menamatkan bacaan seperti Cerita Rakyat ini dan itu. (Maklum anak2 Indonesia sangat dimanjakan orangtuanya, mereka lebih gemar menonton TV dan bermain games daripada membaca buku. Waktu menonton dan bermain pun bisa seharian dilakukan anak, tetapi kalau disuruh membaca 1 halaman saja bisa butuh beberapa hari. Belum lagi apresiasi orang tua yang terkadang yang rendah kalau anaknya belajar membacakan puisi). Belum lagi disekolah, para guru2nya bisa-bisa mogok kerja gara2 kerepotan mengecek kemampuan membaca anak2 (menambah kerjaan aja, bayangkan ada 40 anak dikelas, bagaimana mengontrol kemampuan membaca anak dikelas besar??). Ah, tapi itu khan cuman pikiran negatif saya saja, belum lamunan saya tentu benar khan??
Balik ke negeri Beruang Merah, para guru2 di Russia yakin bila model belajar mereka ini akan dapat mengasah otak, mendorong anak2 untuk mengapresiasi ritme bahasa dan membawa rasa senang dan kebanggaan jika dapat membawakan puisi dengan baik (Kalau dipikir2 sih, benar juga, tapi mengapa buat apa ya?). Disisi lain, ini dapat menjadi jembatan antar generasi, manakala para orang tua langsung mengenali bermacam2 puisi2 (dan cerita) yang biasa mereka baca dan ingat sejak masih kecil. Selain itu, budaya ini juga dapat menumbuhkan keakraban antar generasi, karena para orang tua siswa di rumah pun dapat membantu langsung anaknya membaca atau membaca bersama keluarga. Demikian sedikit cerita dari negeri seberang.
Hm...gimana menurut anda?
20th Century:
- Berbasis waktu.
- Siswa dipersiapkan untuk menghadapi situasi tertentu dalam hidupnya.
- Fokus pada menghafal fakta2 yang sudah dibakukan.
- Kecerdasan (intelligent) bisa diukur/ ditentukan.
- Pelajaran fokus pada pengetahuan, pendalaman dan aplikasi saja.
- Sumber utama belajar: textbook.
- Belajar secara pasif.
- Siswa terisolasi belajar, dibatasi 4 dinding kelas.
- Fokus pada guru: guru sebagai pusat perhatian dan pemberi pengetahuan/ informasi.
- Kebebasan siswa: dari tidak ada hingga sedikit
- Ada masalah disiplin : Guru tidak percaya dengan murid dan sebaliknya. Tidak ada motivasi siswa.
- Kurikulum tersekat2, berdiri sendiri2.
- Hasil belajar dirata2.
- Harapan pada siswa terbatas (Low expectations).
- Sekolah sangat homogen (sama secara kultural).
- Sekolah memiliki batasan2 yang kaku dan jelas.
- Guru satu2nya pemberi nilai siswa. Tidak ada orang lain yang melihat hasil kerja siswa.
- Kurikulum dan sekolah sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan oleh siswa.
- Alat belajar dan penilaian memakai media tercetak.
- Tugas dan fungsi telah dengan jelas ditentukan dan dipilah-pilah.
- Keanekaragaman yang ada pada siswa tidak diperhatikan.
- Aksara (literacy) hanya terbatas pada membaca,menulis dan matematika.
- Sekolah dan guru bekerja secara otonomi.
- Sekolah beroperasi seperti model pabrik.
- Pendidikan siswa bergantung kepada siapa yang menyediakannya.
21st Century:
- Berbasis pada hasil belajar.
- Tujuan akhir pembelajaran siswa sangat dinamis dan berbeda-beda.
- Fokus pada apa yang siswa tahu & dapat lakukan (tidak terlalu men-detail).
- Kecerdasan itu multi-dimensi (multiple intelligence).
- Pelajaran fokus pada sintesa, analisis dan evaluasi (termasuk didalamnya pengetahuan, pendalaman dan aplikasi).
- Sumber utama belajar: riset.
- Belajar secara aktif.
- Siswa belajar ter-kolaborasi dengan siswa di kelasnya dan diluar kelasnya (Global classroom).
- Fokus pada guru: guru sebagai fasilitator/ pelatih.
- Kebebasan siswa: sangat besar.
- Tidak ada masalah disiplin: Guru dan siswa sama saling menghargai sebagai sesama “pelajar”. - Motivasi siswa tinggi.
- Kurikulum terintegrasi dan antar disiplin.
- Hasil belajar berdasarkan apa yang telah dipelajari.
- High expectations. (Semua siswa sukses belajar pada tingkat yg sulit, bahkan beberapa dari mereka lebih dari itu).
- Sekolah (dalam hal budaya dan latar belakang) sangat heterogen.
- Pendidikan sepanjang hayat bagi setiap siswa.
- Penilaian diberikan oleh guru yang bersangkutan, guru yang lain dan pihak luar.
- Kurikulum sesuai dengan minat,pengalaman, bakat siswa dan dunia luar.
- Alat belajar dan penilaian hasil belajar memakai berbagai macam media.
- Tugas dan fungsi tidak ditetapkan secara kaku dan dapat saling mengisi.
- Kurikulum dan perangkat belajar diarahkan untuk mengatasi perbedaan pada siswa.
- Multi aksara (multiple literacies) yang mengakomodir tantangan hidup dan bekerja di zaman globalisasi.
- Sekolah dan guru bekerja dalam network yang kompleks.
- Pendidikan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
- Pendidikan bergantung kepada si pengguna (user).

Banyak siswa tampak kurang menikmati proses belajar mengajar disekolah, yang kalau di runut2 ke belakang dapat bersumber dari beban/ isi kurikulum dibuat dengan konsentrasi atau mengakomodir dari segi politis saja (bias politis) – dalam arti hanya mengejar target/ kemauan/ keinginan yang ditentukan oleh segelintir politisi atau pejabat tertentu saja (Ministry of National Education/ Depdiknas).
Sebenarnya adalah tugas seorang pendidik atau guru (educators) untuk membuat dan mengembangkan kurikulum nasional menjadi kurikulum kelas yang modern. Ini dapat dilakukan dengan mengakomodasi hal-hal sebagai berikut:
· Perubahan-perubahan social, ekonomi, kultural, politis yang sedang berkembang di tengah masyarakat terkini;
· Perubahan/ perkembangan teknologi dan komunikasi yang sangat pesat, yang tentunya memberi dampak baru pada lingkungan belajar (anak) dan bahkan dapat me-redefinisi istilah ‘belajar’ itu sendiri;
· Dimensi global yang mempengaruhi gerak hidup setiap kita, termasuk cara belajar dan bekerja; · Agenda-agenda kebijakan publik yang mendesak: tingkat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, perubahan iklim dunia (climate change), pengelolaan lingkungan yang lebih baik, penghematan konsumsi energi dan investasi perolehan bahan bakar/ energi yang ramah lingkungan (environment friendly fuels), antisipasi krisis keuangan global (krisis moneter/ekonomi, resesi dunia), dll.
Nah dalam melakukan pengembangan ke arah kurikulum kelas yang modern tersebut, guru yang bijak juga harus memperhatikan segi pandang siswa, misalnya:
· Bagaimana (menurut cara pandang siswa) mereka harus belajar 40 jam pelajaran/minggu atau bahkan lebih (mungkin sangat berat buat anak belasan tahun yang masih dalam masa pertumbungan fisik, emosional, kematangan berfikirnya, apalagi yang juga harus membantu/ bekerja ekonomi orang tua). Bayangkan orang dewasa yang bekerja 40+ jam/minggu saja sudah lelah bila pulang ke rumah setiap harinya, apalagi ini siswa yang masih dalam proses pertumbuhan.
· Harus menghadapi lebih dari 12 guru setiap minggunya. Artinya mereka harus siap menghadapi 12 karakter yang berbeda background dan pendekatan. Bayangkan kalau anda menghadapi lebih dari 1 orang boss di tempat kerja, tidakkah ini bisa mengarah pada 'split personality', untuk mengakomodir perbedaan2 karakter dan hal2 lainnya tersebut.
· Kurang/ tidak adanya tingkat berkelanjutan dalam belajar (tidak kontinyu) sehingga mereka bingung dengan apa yang diajarkan gurunya (misalnya tahun ini pakai buku A, besok buku B; tahun ini ada materi baru tentang X, kemudian hilang tahun berikutnya dan kemudian muncul lagi di tahun ketiga).
· Kurang/ tidak adanya keselarasan dalam belajar, dalam arti tumpang tindih isi dan pembahasan antar mata pelajaran. Tidak jarang guru A mendefiniskan X sebagai 'ayam', sedang guru B mendefiniskan X sebagai 'angsa', terbayang tidak begitu kompleks-nya otak siswa berusaha untuk mengolah/ mengerti definisi2 yang berbeda terhadap satu objek yang sama, tidak jarang mis-information yang diterima dapat mengarah para mis-intrepretation oleh siswa.
· Membuat siswa menjadi bingung atau tidak mengerti, apa sebenarnya kompetensi yang diharapkan oleh kurikulum dari cara dan hasil belajar mereka. Cara mengajar guru yang terlalu memakai bahasa 'langit' (yang susah untuk di-analogi-kan dalam bahasa yang dipahami oleh siswa), kadang2 membuat siswa bingung karena tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat dan terapkan sehari2. Belum lagi perbedaan interpretasi guru terhadap suatu pokok bahasan yang sama dari kurikulum nasional yang sama.
Reaksi yang sering terjadi adalah, siswa sering bilang ‘Oh saya suka mata pelajaran ini’, ‘Saya benci deh sama pelajaran itu', ‘Belajar tentang X ini bagus sekali ya, tapi kalo yang itu jelek’, ‘Guru yang ini enak ya, bagus mengajarnya, yang itu jelek’, dll, dsb. Dengan begitu yang terjadi adalah para siswa tidak memiliki pandangan positif pada kurikulum nasional.
Mengahadapi tantangan abad ke 21 ini, adalah penting bagi guru untuk membuat, mengembangkan dan mengajar kurikulum yang relevan dengan zaman dan kebutuhan masyarakat, dapat dimengerti dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh siswa (making sense) dan yang menekankan dan mengakomodir perkembangan diri dan kemampuan siswa masing2 (personal growth).
Untuk itu para pendidik yang bijak dituntut untuk mempu:
1. mendidik siswa bagaimana cara belajar - berbagi pengalaman antar siswa bagaimana cara belajar yang efektif akan sangat membantu;
2. mempersiapkan/ mengajar para guru bagaimana cara mengajar yang efektif - again sharing will be more effective;
3. mengadaptasi/ penyesuaikan cara mengajar guru di dalam kelas demi peningkatkan daya/ kemampuan belajar siswa;
4. menggunakan kapasitas belajar siswa secara efektif (agar guru tahu kemampuan masing2 individu siswa, dia harus bicara hati ke hati atau kenal dekat dengan masing2 siswanya);
5. membudayakan adanya dialog antar guru dan siswa agar tercipta saling pengertian satu sama lain.
Para pengajar/ guru selanjutnya bekerja sebagai satu team diharapkan mampu bekerja dan merepresentasikan semua ide2 yang terlampir didalam kurikulum nasional, mampu mengajar 'beyond the box' (melampaui batasan2 konvensional, kreatif dan idealis), mampu memahami/mengerti apa yang telah sedang dan akan dipelajari oleh siswa, mampu mendisain suatu sistem belajar dengan target terjadinya peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa secara menyeluruh dan mendelegasikan sebanyak mungkin proses belajar kepada siswa (kesuksesan team dapat diukur bila semua tanggung jawab belajar telah diserahkan kepada siswa, artinya bukan tanggungjawab guru/ team pengajarnya).
Sehingga yang terjadi adalah: sekolah punya jadwal pelajaran, tapi mata2 pelajaran itu 'invisible' (belajar tidak terbatas pada nama/mata pelajaran, semua aktivitas di dalam kelas dan sekolah adalah menjadi proses belajar - bahkan dalam waktu jam istirahat pun bisa manjadi aktivitas belajar bagi siswa), sekolah menintegrasi semua pengalaman, model, cara belajar yang mereka tahu/ lakukan menjadi satu kesatuan/ tujuan (yang mengarah pada hilangnya batasan2 dalam belajar, misalnya belajar belajar menggunakan rumus matematika tertentu dalam membahas ekonomi bisnis atau menerapkan table unsur Kimia saat membahas struktur/ properties suatu bahan baku model desian grafis, dll), peningkatan keterampilan/ pengetahuan menjadi fokus pelajaran (dengan aktivitas apa saja sepanjang siswa menjadi lebih tahu & trampil dari sebelumnya, maka sejati siswa telah 'belajar' sesuatu), dan kurikulum hanya dibuat untuk membantu siswa mengerti apa yang sedang mereka pelajari.
