![]() |
In my office |
School of Life - My Journey Diary...
School is a place where we share all resources.
Total Pageviews
Thursday, October 22, 2015
Thursday, January 01, 2015
ASEAN Deep Learning Policy Series di Jakarta, 26-27 Nov 2014
ASEAN Deep Learning Policy Series di Jakarta, 26-27 Nov 2014
British Council dan Microsoft bekerjasama untuk mengadakan serangkaian dialog kebijakan di sejumlah negara Asia Tenggara dari bulan Agustus 2014 hingga Desember 2015. Dialog ini menyatukan pengalaman Microsoft menggunakan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam kegiatan belajar mengajar serta pengalaman British Council melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan sekolah untuk mendukung pengembangan konsep warga dunia (global citizenship).
ASEAN Deep Learning Policy Series ini mengumpulkan para pengambil kebijakan dan praktisi dari Inggris dan negara-negara Asia Tenggara, untuk berdiskusi mengenai kebijakan dan praktek kegiatan belajar mengajar yang berfokus pada Deep Learning Skills.
Secara umum tujuan dari dialog ini adalah untuk saling bertukar pengetahuan dan informasi terkait pendidikan sekaligus sebagai wadah kolaborasi antara pengambil kebijakan dan para praktisi. Secara khusus tujuan kegiatan adalah:
- Memberikan informasi terbaru mengenai konsep serta praktek terbaik (best practice) kegiatan belajar mengajar yang sudah berjalan dan berfokus pada Deep Learning Skills di wilayah ASEAN dan Inggris
- Menyediakan wadah kolaborasi antara para pengambil kebijakan dan praktisi untuk mendorong terbangunnya hubungan dan pertukaran informasi mengenai kebijakan dan praktek yang terkait dengan Deep Learning Skills
- Memfasilitasi dialog yang akan menghasilkan rekomendasi untuk mendorong perluasan praktek proses belajar dan mengajar yang menggunakan pendekatan Deep Learning Skills di Indonesia
3 TEMA UTAMA DALAM KEGIATAN DIALOG INI ADALAH:
- TIK dalam proses belajar mengajar
- Global citizenship – 21st century skills – perspektif dan kesiapan Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara ASEAN dan dunia
- Menanamkan pembangunan karakter dalam kegiatan belajar mengajar di dalam dan luar kelas
MATERI PRESENTASI SESUAI DENGAN AGENDA KEGIATAN DAPAT DIUNDUH LEWAT BEBERAPA TAUTAN BERIKUT:
- Dominic Regester (British Council): 21st century skills for global citizens
- Dr. Baldev Singh (Imagine Education): Tantangan dan pendekatan untuk menyiapkan generasi muda menuju era ekonomi global
- Barlin Hady Kesuma (SMPN 4 Samarinda, Indonesia): Kegiatan sekolah untuk mengembangkan keterampilan abad 21: pengalaman dari Indonesia
- Rob Ford (Crickhowell High School, Powys, Wales, Inggris): Tantangan dan kesempatan dalam mengembangkan konsep warga dunia
- Thieu Thi Minh Tam (Yen Hoa Secondary School, Hanoi, Vietnam): Bagaimana mengembangkan siswa menjadi warga dunia?
- Prof. Cher Ping Lim (The Hongkong Institute of Education): ICT in education for the ASIAN century
- J. Rosalina Kristyanti (USBI, Jakarta, Indonesia): Deep Learning Skills, the USBI way
- Saraa Suaib Hanafi (SMP Islam Al Azhar 9 Jakarta, Indonesia): 21st century learning design in SMP Islam Al Azhar 9 classrooms
- Budiarti (SDN Bubutan 4, Surabaya, Indonesia): Golden rules: aksi nyata untuk membangun karakter
Wednesday, December 31, 2014
Education UK Alumni of the Month : December 2014
Alumni of the Month, December, Barlin Kesuma

Barlin Hady Kesuma is a senior teacher and a newly appointed principal at SMP Negeri 4, a junior secondary school in Samarinda, East Kalimantan Indonesia with 1083 students and more than 70 teachers and supporting staff. A graduate of the University of Birmingham’s School of Education with a degree in International Education, he promotes global citizenship through collaborative school projects and mentoring some teachers. As School Online programme ambassador he actively involves in training a number of schools in two provinces - East Kalimantan and North Kalimantan, to establish partnerships with schools abroad via British Council’s School Online community forums.
Barlin chose to pursue his master and doctorate degrees at the University of Birmingham’s School of Education because the School has national and international standing as a centre of excellence for research in education which was recognised by consistently scoring high in the Research Assessment Exercise. He also recalled that the School provided wide and varied opportunities to undertake research programme that supported his growth of research skills and build on subject knowledge
During his stay in UK, he enjoyed mostly its friendly and supportive atmosphere of the people in the UK. For the first time in his life, he lived far away from his family for pursuing his degree in UK, but he did not feel insecure, thanks to finding new Indonesian community in Birmingham, West Midlands. In the small community of 80 Indonesians, Barlin gained a strong friendship and cooperation among students and Indonesian expatriates in Birmingham. They lived, supported each other and felt warm togetherness, as they often organised some activities and gatherings in a regular basis.
Five years after his return to Indonesia, he was appointed as a head teacher in one of the largest state-funding schools in the City of Samarinda. Barlin concurs his UK degrees (master and doctorate in Education) have played an important role for his career because he managed to compete with other strong and senior candidates across the city to get the post. His UK education and experience background has supported him with fresh knowledge and ideas that helped him do well in his previous posts.
As he recalled his life in the UK, Barlin said although his university is located in Edgbaston, he chose to live in an area called Aston, which is about 1 hour if traveling by buses to the campus, because Aston has a big stadium, home for a Premiership football club named Aston Villa. Living by a big stadium gave him precious experience since he is a big fan of English football Premiership since he was younger. In Aston, he learned to live with people from many different races, ethnics, religions and countries who could live in a perfect harmony. Barlin concludes his story by encouraging other Indonesians to study in the UK and embrace its multiculturalism as the experience has given him a valuable insight on how the unity in diversity is practiced in a country outside the beloved country, Indonesia.
http://www.educationuk.org/indonesia/articles/alumni-of-the-month-december-barlin-kesuma-phd-birmingham/
Wednesday, December 03, 2014
Berita Konfrensi ASEAN DEEP LEARNING POLICIES SERIES 26-27 November di Jakarta
TIK Menembus Batas Kelas
Harian Kompas, halaman 11
Efisiensi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menunjang berjalannya pendidikan secara maksimal. Proses belajar kini tidak lagi terikat pada ruang kelas. Melalui dunia maya, siswa bisa terhubung kepada berbagai sekolah di dunia sehingga pengajaran keterampilan, karakter, dan kemampuan menjadi manusia global bisa diterapkan.
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad mengatakan, tenaga pendidik perlu diajarkan cara mengefisiensikan teknologi sehingga mereka bisa memaksimalkan krestivitas untuk bisa memberikan pendidikan yang mendalam kepada para siswa.
Salah satu provinsi yang menerapkan TIK secara efisien untuk digunakan dalam proses belajar mengajar adalah Provinsi Kalimantan Timur. Di provinsi tersebut, sepuluh SMP, antara lain SMPN 4 Samarinda, SMPN 12 Samarinda, dan SMP Kesatuan, memanfaatkan seluas-luasnya dunia maya untuk menambah ilmu.
Kepala Sekolah SMPN 4 Barlin Hady Kesuma menuturkan, ketika memulai pengefisienan penggunaan TIK pada 2011, sekolahnya hanya memiliki tiga komputer dengan koneksi internet yang lamban. Akan tetapi niat itu tidak menyurutkan niatnya dan siswa untuk berhubungan dengan dunia global.
Program efisiensi TIK itu merupakan hasil kerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan British Council dan Microsoft. Caranya, Microsoft mengumpulkan guru-guru untuk diberi bimbingan teknologi selama dua hari hingga enam hari.
Efisiensi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menunjang berjalannya pendidikan secara maksimal. Proses belajar kini tidak lagi terikat pada ruang kelas. Melalui dunia maya, siswa bisa terhubung kepada berbagai sekolah di dunia sehingga pengajaran keterampilan, karakter, dan kemampuan menjadi manusia global bisa diterapkan.
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad mengatakan, tenaga pendidik perlu diajarkan cara mengefisiensikan teknologi sehingga mereka bisa memaksimalkan krestivitas untuk bisa memberikan pendidikan yang mendalam kepada para siswa.
Salah satu provinsi yang menerapkan TIK secara efisien untuk digunakan dalam proses belajar mengajar adalah Provinsi Kalimantan Timur. Di provinsi tersebut, sepuluh SMP, antara lain SMPN 4 Samarinda, SMPN 12 Samarinda, dan SMP Kesatuan, memanfaatkan seluas-luasnya dunia maya untuk menambah ilmu.
Kepala Sekolah SMPN 4 Barlin Hady Kesuma menuturkan, ketika memulai pengefisienan penggunaan TIK pada 2011, sekolahnya hanya memiliki tiga komputer dengan koneksi internet yang lamban. Akan tetapi niat itu tidak menyurutkan niatnya dan siswa untuk berhubungan dengan dunia global.
Program efisiensi TIK itu merupakan hasil kerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan British Council dan Microsoft. Caranya, Microsoft mengumpulkan guru-guru untuk diberi bimbingan teknologi selama dua hari hingga enam hari.
Thursday, September 18, 2014
Barlin : "Saya Tidak Minta Jabatan".
Berita Kaltimpost hari Kamis, tanggal 18/09/2014 Halaman Metropolis :
Seminggu ini berita Kaltimpost dipenuhi berita polemik pengangkatan 133 Kepsek SD, SMP, SMA dan SMK di Samarinda oleh Pemkot Samarinda yang dipermasalahkan oleh Lembaga Pengaduan Rakyat (LPR). Dan sebagai salah satu nama Kepsek yang dipermasalahkan karena belum mengikuti program LPPKS, maka saya pun menerima permintaan wawancara dari wartawan Kaltimpost dan menjelaskan pendapat saya seperti yang di kutip diatas.
-----
Seminggu ini berita Kaltimpost dipenuhi berita polemik pengangkatan 133 Kepsek SD, SMP, SMA dan SMK di Samarinda oleh Pemkot Samarinda yang dipermasalahkan oleh Lembaga Pengaduan Rakyat (LPR). Dan sebagai salah satu nama Kepsek yang dipermasalahkan karena belum mengikuti program LPPKS, maka saya pun menerima permintaan wawancara dari wartawan Kaltimpost dan menjelaskan pendapat saya seperti yang di kutip diatas.
-----
Saya Tak Minta Jabatan
Kisruh Mutasi Kepala Sekolah
SAMARINDA
| Kamis, 18 September 2014
SAMARINDA - Kepala sekolah (kepsek)
yang diangkat tanpa sertifikasi Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan
Kepala Sekolah (LPPKS), Barlin Hady Kesuma, menanggapi santai soal
namanya yang disebut-sebut Lembaga Pengaduan Rakyat (LPR) Kaltim tak
memenuhi syarat menjadi kepsek.
Barlin mengatakan, dirinya sebagai PNS harus siap ditempatkan di mana
saja oleh Pemkot. Sebab, jabatan yang sekarang diembannya itu bukanlah
permintaan dirinya. “Saya tidak pernah meminta-minta jabatan ke Pemkot,”
ujar Barlin yang kini menjabat Kepala SMP 4 Samarinda. Ia pun tidak
mengetahui mengapa Pemkot memilih dirinya sebagai kepala sekolah. Meski
begitu, ia mengatakan biar masyarakat yang menilai latar belakang
dirinya. “Supaya lebih fair silakan lihat profil saya di internet. Ketik nama saya,” ujar PNS golongan III/D itu.
Ia juga menegaskan bahwa memiliki banyak pengalaman di dunia
pendidikan. Misalnya, ia kerap dipercaya sebagai narasumber di beberapa
gelaran Kementerian Pendidikan. Selain itu, ia pernah menjadi penilai
kinerja guru dan kepala sekolah se-Indonesia. Barlin pun membantah jika
dirinya dekat dengan pemkot. Bahkan ia mengaku tidak mengenal pejabat di
Balai Kota itu.
Disinggung mengenai gugatan yang dilayangkan LPR Kaltim, ia
menyerahkan sepenuhnya kepada pemkot. “Saya hanya menjalankan tugas.
Tidak masalah soal gugatan itu. Saya tidak ada beban,” kata pria
berkacamata itu. Terkait LPPKS, ia berjanji secepatnya ikut sertifikasi
LPPKS, mengingat hal itu merupakan syarat menjadi kepala sekolah.
“Pemkot masih memberi waktu saya untuk ikut LPPKS hingga 2016. Jika
ada kuota, saya pasti ikut,” ujar dia. Dirinya pun menjamin tidak akan
ada pungutan liar di sekolah yang akan dipimpinnya itu. Bahkan, ia akan
memaksimalkan sumber daya yang ada di sana untuk menekan biaya
pendidikan di sekolah di Jalan Juanda itu.
Diberitakan kemarin, rotasi kepsek di Samarinda masuk ranah hukum.
Selasa (16/9), LPR Kaltim mendaftarkan gugatan mereka ke Pengadilan Tata
Usaha Negara (PTUN). LPR menilai Pemkot Samarinda menyalahi aturan
dalam penugasan guru sebagai kepsek. “Sudah kami daftar di PTUN dengan
nomor 144. Diterima oleh Rahmat Hidayat (dari PTUN),” ujar Ketua
LPR Didik Setiyawan, kemarin. Kata dia, pemkot tak mengindahkan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 28 Tahun 2010 tentang
Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.
Kata dia, meski Disdik Samarinda berdalih kepsek yang baru diangkat
dipilih karena memiliki kompetensi, Disdik tidak boleh mengacuhkan
Peraturan Menteri. Dia menyebut setidaknya ada empat kepsek yang
diangkat belum memenuhi persyaratan seperti tertuang dalam peraturan
menteri. Seperti mengikuti sertifikasi LPPKS. (*/hdd/far/k8)
http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/99616-saya-tak-minta-jabatan
---Tuesday, August 26, 2014
Pengalaman Mengikuti Kegiatan Konferensi di Hanoi, Vietnam
ASEAN POLICY DIALOGUE THEMED EMPOWER STUDENTS WITH 21ST CENTURY DEEP LEARNING SKILLS
Graham Norris HMIAssistant Director (Curriculum, learning, teaching, assessment)
Guiding Principle :
"The poorest performing education systems of the 21st century will not only be those that cannot change, but also those that fail to involve everyone who has a stake in education in guiding the innovation which drives positive change".
Creating:- Generating new ideas, products, or ways of viewing things
- Designing, constructing, planning, producing, inventing
Evaluating:
- Justifying a decision or course of action
- Checking, hypothesising, critiquing, experimenting, judging
Analysing:
- Breaking information into parts to explore understandings and relationships
- Comparing, organising, deconstructing, interrogating, finding
Applying:
- Using information in another familiar situation
- Implementing, carrying out, using, executing
Understanding:
- Explaining ideas or concepts Interpreting, summarising, paraphrasing, classifying, explaining
Remembering:
- Recalling information
- Recognising, listing, describing, retrieving, naming, finding
How well are we doing ?
Creativity and innovation
Learning and teaching
Achievement and attainment
Inequity in educational outcomes
Assessment
Educational leadership
Learning for sustainability and global citizenship
Learning through technology
- 21st Deep Learning Skills Conference - Programme (Adobe PDF 2MB)
- Speaker Biographies (Microsoft Word 744KB)
- National curriculum in the UK – Graham Norris (UK) (Adobe PDF 2MB)
- 21st Century skills for global citizens - Dominic Regester (UK) (Adobe PDF 525KB)
- Panel Discussion - Robert Ford (UK) (Adobe PDF 2MB)
- Panel Discussion - Barlin Kesuma (Indonesia) (Adobe PDF 547KB)
- Panel Discussion - Sariee Minan (Malaysia) (Adobe PDF 245KB)
- Panel Discussion - Monette Sabio (Philippines) (Adobe PDF 808KB)
- Good practices in developing 21st century skills - Anna Salaman (Singapore) (Adobe PDF 5MB)
- Workshop 1: Unlock students' potential - Pham Minh An (Vietnam) (Adobe PDF 2MB)
- Workshop 1: Unlock students' potential - Jenny Lee (Singapore) (Adobe PDF 3MB)
- Workshop 1: Unlock students' potential - To Thuy Diem Quyen (Vietnam) (Adobe PDF 2MB)
- Workshop 2: Global Citizenships - Schools activities to develop 21st century skills - Barlin Kesuma (Indonesia) (Adobe PDF 3MB)
- Workshop 2: Global citizenships - Schools activities to develop 21st century skills - Robert Ford (UK) (Adobe PDF 1MB)
- Workshop 2: Global citizenships - Schools activities to develop 21st century skills - Thieu Thi Minh Tam (Vietnam) (Adobe PDF 8MB)
- Workshop 3: Creativity & Imagination embedded in school education - Anna Salaman (Singapore) (Adobe PDF 819KB)
- Workshop 3 - Creativity & Imagination embedded in school education - Monette Sabio (Philippines) (Adobe PDF 1003KB)
- Workshop 3: Creativity & Imagination embedded in school education - Sariee Minan (Malaysia) (Adobe PDF 4MB)
Wednesday, September 11, 2013
Menyambut Pilgub Kaltim 10 September 2013
Tanggal 10 September besok rakyat Kaltim akan memberikan
suara dalam perhelatan akbar Pilkada Gubernur Kaltim. Ketiga pasangan kandidat
calon yang bertarung telah selesai melakukan kampanye yang melelahkan diseluruh
tempat, dan bahkan rakyat bisa langsung melihat acara debat antar kandidat di
televisi (TV One dan Metro TV). Sayangnya dari dua kali penampilan di acara debat
langsung tersebut rakyat dapat melihat
bahwa ketiga pasangan calon Kaltim 1 dan 2 tersebut hanya memiliki visi dan
misi yang tidak jauh berbeda satu sama lain. Ketiganya juga menawarkan
program-program yang nyaris sama, dibungkus dengan kemasan yang hampir seragam
pula. Tidak ada yang benar-benar punya program yang “berani” tampil beda dan benar-benar
“cerdas” membawa Kaltim yang benar-benar baru. Semua kandidat lebih “memilih”
untuk hanya bermain “aman” dan tak berani keluar dari pakem (out of box) kepatutan
yang ada.
Apa dampak dari banyaknya “kesamaan” atau “kesegaraman”
tersebut ? Tentu saja berdampak dari ‘akan tingginya’ angka golput dalam
Pilkada nanti. Mengapa saya meramalkan bahwa suara Golput akan naik ? Karena
masyarakat pemilih akan merasa bahwa dari ketiga pasangan tersebut tidak ada
yang benar-benar akan berani, yaitu mewakili aspirasi mereka dan dapat memberi
arah navigasi atau arah pembangunan yang benar-benar baru. Ingat bahwa 60 % calon
pemilih dalam Pilkada ini adalah orang-orang berusia muda. Mereka yang muda ini
tentu lebih tertarik dengan calon-calon pemimpin yang benar-benar energik,
berani mengambil resiko dan mau bekerja keras untuk “mewujudkan impian” seperti
mereka. Pemimpin yang aspiratif sekaligus inspiratif serta bisa menjadi ‘role
model’ atau panutan bagi mereka itu justru tidak hadir atau “absen” dalam
kontestansi 2013 ini. Jika tidak ada harapan baru atau new hope yang diperlu
didukung dan dipilih maka akankah hati mereka tergerak untuk memberikan
suaranya ?
Sejarah menunjukan, ketika Barack Obama (2008) dan Jokowi
(2012) maju untuk memenangi kontestansi politik mereka, mereka maju dengan
berhasil mempersonifikasikan diri mereka sebagai “harapan” atau hope bagi para
calon pemilih. Mereka berhasil tampil sebagai Black Swan (angsa hitam) yang
berbeda dari semua pilihan (baca: angsa-angsa putih) yang pada waktu itu ada
(Barack Obama menumbangkan George W Bush yang “haus perang” di Timteng dan
Jokowi mengalahkan Foke yang “gagal” mengatasi kesemerawutan Jakarta). Mereka
juga berhasil membuat para calon pemilih, bahkan yang biasanya golput, untuk
terketuk kembali semangatnya untuk memilih dan berbondong-bondong pergi ke TPS
dan memberikan suaranya. Bagi pemilihnya, Obama dan Jokowi adalah benar-benar
harapan yang didambakan dan dipercaya untuk menerima “wahyu” untuk melakukan
perubahan yang diinginkan oleh rakyat.
Berkaca pada Pilkada Kaltim sebelumnya tahun 2008, jumlah
angka Golput (pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya) mencapai 900 ribuan
atau 42 %, sementara yang menggunakan hak pilihnya “hanya” 1,3 juta orang. Artinya yang pemimpin terpilih saat itu
(memenangkan sekitar 57 % suara yang masuk) sesungguhnya hanyalah di dukung oleh
atau mewakili minoritas rakyat. Minoritas yang memimpin mayoritas itulah hasil
terbaik oleh praktek demokrasi Pilkada tahun 2008 kita yang menghabiskan
puluhan milyar uang rakyat Kaltim tersebut.
Setelah tanggal 10 September nanti kita akan tahu bagaimanakah
“bunyi” suara rakyat Kaltim sebenarnya. Jika jumlah pemilih yang golput
meningkat, maka berarti “hope” benar-benar terkubur. Jika suara Golput
mendekati 40-50 % maka sesungguhnya rakyat Kaltim sedang “menghukum”
partai-partai politik di Kaltim yang telah “gagal”, tidak aspiratif dan egois
dalam menghadirkan calon-calon pemimpin yang benar-benar di inginkan rakyat
Kaltim. Karena sesungguhnya berpartai politik adalah wahana atau alat untuk
mewujudkan harapan-harapan rakyat, bukan sekadar alat untuk berkuasa untuk
memuaskan ego manusia semata.
Saya berharap semoga semua analisis saya diatas salah dan
jumlah golput hanya 10 % alias bisa diabaikan. Dan saya berharap pemimpin
terpilih nanti benar-benar mampu bermetamorfosis menjadi pemimpin harapan baru
Kaltim yang benar-benar merangkul keseluruhan rakyat Kaltim, baik yang memilih
maupun yang tidak mencoblos gambarnya. Saya
berharap tanggal 10 September nanti rakyat Kaltim benar-benar “berpesta
demokrasi” demi mewujudkan perubahan Kaltim yang luar biasa. Semoga !!
Samarinda, 8 September 2013
--
Inilah hasil Pilkada yang saya peroleh pada 11 September
Quick count data masuk 98.33% afi/mukmin 42.49 % (649.437 suara) farid/sofyan 20.78 % (317.611 suara) imdaad/ipong 36.73 % (561.399 suara) Voter Turns Out (pemilih yg menggunakan hak pilih 54.71 % (1.528.449 suara) pemilih yang tidak menggunakan hak pilih 45.29 % 1.265.279 suara) DPT Pilgub Kaltim 2013 : 2.793.729 orang pemilih
http://kaltimpost.co.id/berita/detail/29706/suara-golput-suara-rakyat.html
Dalam hitung cepat pemungutan suara kemarin (10/9), angka golput mencapai 45,29 persen atau sekitar 1,26 juta orang tak memakai hak pilih. Dengan demikian, kenduri demokrasi hanya diikuti 1,52 juta rakyat Kaltim. Dari 1,52 juta suara, sebanyak 42,49 persen atau sekitar 695 ribu orang memilih Faroek-Mukmin, hanya setengah dibanding suara golput.
Di samping itu, angka golput kali ini adalah yang tertinggi dalam rangkaian pemilu selama era reformasi. Sebelumnya, suara golput tertinggi adalah putaran pertama Pilgub 2008 dengan 43,3 persen.
--
Inilah hasil Pilkada yang saya peroleh pada 11 September
Quick count data masuk 98.33% afi/mukmin 42.49 % (649.437 suara) farid/sofyan 20.78 % (317.611 suara) imdaad/ipong 36.73 % (561.399 suara) Voter Turns Out (pemilih yg menggunakan hak pilih 54.71 % (1.528.449 suara) pemilih yang tidak menggunakan hak pilih 45.29 % 1.265.279 suara) DPT Pilgub Kaltim 2013 : 2.793.729 orang pemilih
http://kaltimpost.co.id/berita/detail/29706/suara-golput-suara-rakyat.html
SAMARINDA - Lagi dan lagi, suara golongan putih
(golput) dan kelompok yang tak bisa memberikan suara unggul telak dari
perolehan pasangan calon. Dari perkiraan Lingkaran Survei Indonesia
(LSI), jumlah kelompok abstain mencapai dua kali lipat dari penduduk
yang memilih Awang Faroek Ishak-Mukmin Faisyal.
Dalam hitung cepat pemungutan suara kemarin (10/9), angka golput mencapai 45,29 persen atau sekitar 1,26 juta orang tak memakai hak pilih. Dengan demikian, kenduri demokrasi hanya diikuti 1,52 juta rakyat Kaltim. Dari 1,52 juta suara, sebanyak 42,49 persen atau sekitar 695 ribu orang memilih Faroek-Mukmin, hanya setengah dibanding suara golput.
Di samping itu, angka golput kali ini adalah yang tertinggi dalam rangkaian pemilu selama era reformasi. Sebelumnya, suara golput tertinggi adalah putaran pertama Pilgub 2008 dengan 43,3 persen.
Subscribe to:
Posts (Atom)